Jumat, 17 Februari 2012

Mush’ab bin ‘Umayr

Mush'ab bin 'Umayr (Arab: مصعب بن عمير) adalah salah seorang sahabat nabi Nabi Muhammad. Mush'ab berhasil memasukan ajaran Islam kepada Usayd bin Hudhayr dan sahabat Usayd yang bernama Sa’ad bin Mu’adz.

Biografi

Mus'ab bin Umair berasal dari keturunan bangsawan dari suku Quraisy. Ia adalah salah satu sahabat yang pertama dalam memeluk Islam setelah Nabi Muhammad saw diangkat sebagai Nabi dan menyebarkan agama Islam.
Mus'ab bin Umair diutus oleh Nabi Muhammad saw untuk menyebarkan dan mengajarkan agama Islam di Madinah, setelah orang-orang dari Madinah datang menyatakan keislamannya. Ia di Madinah hingga Nabi Muhammad saw hijrah ke Madinah. Mus'ab bin Umair mati syahid di Pertempuran Uhud.

Muawiyah bin Abu Sufyan

Muawiyah bin Abu Sufyan (602 – 680; umur 77–78 tahun; bahasa Arab: معاوية بن أبي سفيان) bergelar Muawiyah I adalah khalifah pertama dari Bani Umayyah.
Muawiyah diakui oleh kalangan Sunni sebagai salah seorang Sahabat Nabi, walaupun keislamannya baru dilakukan setelah Mekkah ditaklukkan. Kalangan Syi'ah sampai saat ini tidak mengakui Muawiyah sebagai khalifah dan Sahabat Nabi, karena dianggap telah menyimpang setelah meninggalnya Rasulullah SAW. Ia diakui sebagai khalifah sejak Hasan bin Ali, yang selama beberapa bulan menggantikan ayahnya sebagai khalifah, berbai'at padanya. Dia menjabat sebagai khalifah mulai tahun 661 (umur 58–59 tahun) sampai dengan 680.
Terjadinya Perang Shiffin makin memperkokoh posisi Muawiyah dan melemahkan kekhalifahan Ali bin Abu Thalib, walaupun secara militer ia dapat dikalahkan. Hal ini adalah karena keunggulan saat berdiplomasi antara Amru bin Ash (kubu Muawiyah) dengan Abu Musa Al Asy'ari (kubu Ali) yang terjadi di akhir peperangan tersebut. Seperti halnya Amru bin Ash, Muawiyah adalah seorang administrator dan negarawan ulung.

Memerintah 661 – 680
Dinobatkan 661
Dilantik 661
Nama lengkap Muawiyah bin Abu Sufyan
Lahir 602
Meninggal 6 Mei 680
Pendahulu Ali
Pewaris Yazid I
Pengganti Yazid I
Anak Yazid I
Wangsa Bani Abdus Syams
Dinasti Bani Umayyah
Ayah Abu Sufyan
Ibu Hindun binti Utbah

Mu'adz bin Jabal

Mu'adz bin Jabal (Bahasa Arab:معاذ بن جبل) adalah sahabat nabi yang berbai'at kepada Rasulullah sejak pertama kali. Sehingga ia termasuk orang yang pertama kali masuk Islam (as-Sabiqun al-Awwalun). Mu'adz terkenal sebagai cendekiawan dengan wawasannya yang luas dan pemahaman yang mendalam dalam ilmu fiqh, dan bahkan Rasulullah menyebutnya sebagai sahabat yang paling mengerti yang mana yang halal dan yang haram. Mu'adz juga merupakan duta besar Islam yang pertama kali yang dikirim Rasulullah.
Nama panjangnya adalah Muadz bin Jabal bin Amr bin Aus al-Khazraji, sedangkan nama julukannya adalah “Abu Abdurahman”. Ia dilahirkan di Madinah dan memeluk Islam pada usia 18 tahun. Fisiknya gagah, berkulit putih, berbadan tinggi, berambut pendek dan ikal, dan bergigi putih mengkilat. Muadz termasuk dalam rombongan berjumlah sekitar 72 orang Madinah yang datang berbai’at kepada Rasulullah. Setelah itu ia kembali ke Madinah sebagai seorang pendakwah Islam di dalam masyarakat Madinah. Ia berhasil mengislamkan beberapa orang sahabat terkemuka misalnya Amru bin al-Jamuh. Rasulullah mempersaudarakannya dengan Ja’far bin Abi Thalib. Rasulullah mengirimnya ke negeri Yaman untuk mengajar. Rasulullah mengantarnya dengan berjalan kaki sedangkan Mu’adz berkendaraan, dan Nabi bersabda kepadanya: ” Sungguh, aku mencintaimu“. Mu’adz bin Jabal wafat tahun 18 H ketika terjadi wabah hebat di Urdun tempat ia mengajar sebagai utusan khalifah Umar bin Khattab, waktu itu usianya 33 tahun.

IDENTITAS :
  * Nama : Mu'adz Bin Jabal bin Amr bin Aus al-Khazraji
  * Suku : Anshar
  * Bani : Al - Kahzraji
  * Fisik : Gagah, kulit putih, rambut & ikal, badan tinggi

JULUKAN :
  * Assabiqunal Awwalun : Golongan pertama masuk Islam
  * Abu Abdirrahman : Ayah dari Abdirrahman
  * Immamul Fuqaha : Pemimpin para ahli faqih (paling tahu halal & haram)
  * Kanzul Ulama : Gudangnya ilmu (memiliki wawasan luas)

PROSES MASUK ISLAM :
  * Termasuk dalam rombongan yang berjumlah 72 orang yang berbai'at kepada Rasul pada perjanjian Aqabah kedua
  * Masuk Islam pada usia 18 tahun
  * Kembali ke Madinah untuk berdakwah dan berhasil mengislamkan Amru bin Al-Jamuh

SIFAT :
  * Taat & Taqwa : Ibnu Mas'ud : "Kami menganggap Mu'adz serupa dengan Nabi Ibrahim As"(ketaatannya kepada Allah)
  * Cerdas : Rasul : "Umatku yang paling tahu akan halal dan haram ialah Mu'adz bin Jabal"
  * Pendiam : Dalam suatu majelis, Mu'adz diam mendengarkan dan menjawab pertanyaan yang diajukan, dan ia tak hendak bicara kecuali diminta.
  * Berwibawa : Bila para sahabat berbicara sedang diantara mereka hadir Mu'adz bin Jabal, tentu mereka meminta pendapatnya karena kewibawannya
  * Dermawan : Selalu memberikan segala sesuatu yang diminta padanya dengan hati yang ikhlas
  * Suci Hati : Kekayaan yang diperolehnya secara halal dan bukan syubhat apalagi haram

PRESTASI :
  * Ahli bidang fiqih atau hukum Islam
  * Rasul mengutusnya berdakwah di Yaman
  * Sebagai guru dan ahli hukum di Syiria
  * Diangkat Umar bin Kahttab sebagai Gubernur Militer di Syiria
  * Salah satu penduduk surga
  * Disayang Rasulullah

AKHIR HAYAT :
  * Mu'adz wafat tahun 18 H
  * Usia 33 tahun
  * Terkena penyakit Tha'un di Urdun dalam misi dakwah
  * Masa kekhalifahan Umar bin Khattab

FATWA MU'ADZ BIN JABAL :
Ilmu itu ialah mengenal dan beramal : "Pelajarilah segala ilmu yang kalian sukai, tetapi Allah tidak akan memberikan manfat dengan ilmu itu sebelum kalian mengamalkannya lebih dulu

Hamzah bin Abdul-Muththalib

Hamzah bin Abdul-Muththalib (bahasa Arab: حمزه بن عبدالمطلب) adalah sahabatMuhammad SAW. Ia memiliki julukan "Singa Allah" karena kepahlawanannya saat membela Islam. sekaligus paman dan saudara sepersusuan Nabi

Kelahiran dan kehidupan keluarga

Hamzah lahir diperkirakan hampir bersamaan dengan Muhammad. Ia merupakan anak dari Abdul-Muththalib dan Haulah binti Wuhaib dari Bani Zuhrah. Menurut riwayat, pernikahan Abdul-Muththalib dan Abdullah bin Abdul-Muththalib terjadi bersamaan waktunya, dan ibu dari Nabi, Aminah binti Wahab, adalah saudara sepupu dari Haulah binti Wuhaib. Hamzah Bin Abdul Mutholib adalah seorang yang mempunyai otak yang cerdas dan pendirian yang kuat dia termasuk tokoh Quraish yang di segani. Nama sebenarnya Hamzah bin Abdul Muthalib bin Hasyim, seorang paman Nabi dan saudara sepersusuannya. Dia memeluk Islam pada tahun kedua kenabian, Ia Ikut Hijrah bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam dan ikut dalam perang Badar, dan meninggal pada saat perang Uhud, Rasulullah menjulukinya dengan “Asadullah” (Singa Allah) dan menamainya sebagai “Sayidus Syuhada”.
Ibnu Atsir berkata dalam kitab ‘Usud al Ghabah”, Dalam perang Uhud, Hamzah berhasil membunuh 31 orang kafir Quraisy, sampai pada suatu saat beliau tergelincir sehingga ia terjatuh kebelakang dan tersingkaplah baju besinya, dan pada saat itu ia langsung ditombak dan dirobek perutnya . lalu hatinya dikeluarkan oleh Hindun kemudian dikunyahnya hati Hamzah tetapi tidak tertelan dan segera dimuntahkannya.
Ketika Rasulullah melihat keadaan tubuh pamannya Hamzah bin Abdul Muthalib, Beliau sangat marah dan Allah menurunkan firmannya ,” Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. (Qs; an Nahl 126) Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq didalam kitab,” Sirah Ibnu Ishaq” dari Abdurahman bin Auf bahwa Ummayyah bin Khalaf berkata kepadanya, "Siapakah salah seorang pasukan kalian yang dadanya dihias dengan bulu bulu itu?", aku menjawab “Dia adalah Hamzah bin Abdul Muthalib”. Lalu Umayyah dberkata Dialah yang membuat kekalahan kepada kami”.
Sementara itu Abu jahal yang telah mengetahui bahwa Hamzah telah berdiri dalam barisan kaum muslimin berpendapat perang antara kaum kafir Quraisy dengan kaum muslimin sudah tidak dapat dielakkan lagi. Oleh karena itu ia mulai menghasut dan memprovokasi orang-orang Quraisy untuk melakukan tindak kekerasan terhadap Rosulullah dan pengikutnya. Bagai manapun Hamzah tidak dapat membendung kekerasan yang dilakukan kaum Quraisy terhadap para sahabat yang lemah. Akan tetapi harus diakui, bahwa keislamannya telah menjadi perisai dan benteng pelindung bagi kaum muslimin lainnya. Lebih dari itu menjadi daya tarik tersendiri bagi kabilah-kabilah Arab yang ada di sekitar jazirah Arab untuk lebih mengetahui agama islam lebih mendalam.
Sejak memeluk islam, Hamzah telah berniat untuk membaktikan segala keperwiraan, keperkasaan, dan juga jiwa raganya untuk kepentingan da'wah islam. Karena itu tidaklah mengherankan jika Rasulullah menjulukinya dengan sebutan "Asadullah" yang berarti singa Allah.
Pasukan kaum muslimin yang pertama kali di kirim oleh Rasulullah dalam perang Badar, di pimpin langsung oleh Sayyidina Hamzah, Si Singa Allah, dan Ali bin Abu Thalib menunjukkan keberaniannya yang luar biasa dalam mempertahankan kemuliaan agama islam, hingga akhirnya kaum muslimin berhasil memenangkan perang tersebut secara gilang gemilang. Banyak korban dari kaum kafir Quraisy dalam perang tersebut, dan tentunya mereka tidak mau menelan begitu saja. Maka mereka mulai mempersiapkan diri dan menghimpun segala kekuatan untuk menuntut balas kekalahan yang mereka alami sebelumnya.
Akhirnya tibalah saatnya perang Uhud di mana kaum kafir Quraisy disertai beberapa kafilah Arab lainnya bersekutu untuk menghancurkan kaum muslimin. Sasaran utama perang tersebut adalah Rasulullah dan Hamzah bin Abdul Muthalib. Dan mereka memiliki rencana yang keji terhadap Hamzah yaitu dengan menyuruh seorang budak yang mahir dalam menggunakan tombak dan organ hatinya akan di ambil dan akan di makan oleh Hindun yang memiliki dendam sangat membara karena ayahnya dibunuh oleh Hamzah pada Perang Badar
Sedangkan Washyi bin Harb diberikan tugas yang maha berat yaitu membunuh Hamzah dan akan dijanjikan kepadanya imbalan yang besar pula yaitu akan dimerdekakan dari perbudakan. Akhirnya kedua pasukan tersebut bertemu dan terjadilah pertempuran yang dahsyat, sementara Sayyidina Hamzah berada di tengah-tengah medan pertempuran untuk memimpin sebagian kaum muslimin. Ia mulai menyerang ke kiri dan ke kanan.
Seluruh pasukan kaum muslimin maju dan bergerak serentak ke depan, hingga akhirnya dapat diperkirakan kemenangan berada di pihak kaum muslimin. Dan seandainya pasukan pemanah yang berada di atas bukit Uhud tetap patuh pada perintah Rosulullah untuk tetap berada di sana dan tidak meninggalkannya untuk memungut harta rampasan perang yang berada di lembah Uhud, niscaya kaum muslimin akan dapat memenangkan pertempuran tersebut.
Di saat mereka sedang asyik memungut harta benda musuh islam yang tertinggal, kaum kafir Quraisy melihatnya sebagai peluang dan berbalik menduduki bukit Uhud dan mulai melancarkan serangannya dengan gencar kepada kaum muslimin dari atas bukit tersebut. Tentunya penyerangan yang mendadak ini pasukan muslim terkejut dan kocar-kacir dibuatnya. Melihat itu semangat Hamzah semakin bertambah berlipat ganda. Ia kembali menerjang dan menghalau serangan kaum Quraisy.
Sementara itu Wahsyi terus mengintai gerak gerik Hamzah, setelah menebas leher Siba' bin Abdul Uzza dengan lihai-nya. Maka pada saat itu pula, Wahsyi mengambil ancang-ancang dan melempar tombaknya dari belakang yang akhirnya mengenai pinggang bagian bawah Hamzah hingga tembus ke bagian muka di antara dua pahanya. Lalu Ia bangkit dan berusaha berjalan ke arah Wahsyi, tetapi tidak berdaya dan akhirnya roboh sebagai syahid.
Usai peperangan, Rasulullah dan para sahabatnya bersama-sama memeriksa jasad dan tubuh para syuhada yang gugur. Sejenak beliau berhenti, menyaksikan dan membisu seraya air mata menetes di kedua belah pipinya. Tidak sedikitpun terlintas di benaknya bahwa moral bangsa arab telah merosot sedemikian rupa, hingga dengan teganya berbuat keji dan kejam terhadap jasad Hamzah. Dengan keji mereka telah merusak jasad dan merobek dada Sayyidina Hamzah dan mengambil hatinya. Kemudian Rasulullah mendekati jasad Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib, Singa Allah, Seraya bersabda,
"Tak pernah aku menderita sebagaimana yang kurasakan saat ini. Dan tidak ada suasana apapun yang lebih menyakitkan diriku dari pada suasana sekaran ini."
Setelah itu Rasulullah dan kaum muslimin menshalatkan jenazah pamannya dan para syuhada lainnya satu persatu. Pertama Sayyidina Hamzah dishalatkan lalu di bawa lagi jasad seorang syahid untuk dishalatkan, sementara jasad Sayyidina Hamzah tetap dibiarkannya disitu. Lalu jenazah itu di angkat, sedangkan jenazah Sayyidina Hamzah tetap di tempat. Kemudian di bawa jenazah yang ketiga dan dibaringkannya di samping jenazah Sayyidina Hamzah. Lalu Rasulullah dan para sahabat lainnya menshalatkan mayat itu. Demikianlah Rasulullah menshalatkan para syuhada Uhud satu persatu, hingga jika di hitung Maka Rasulullah dan para sahabat telah menshalatkan Sayyidina Hamzah sebanyak tujuh puluh kali.
Abdurahman bin Auf menyebutkan bahwa ketika perang Badar, Hamzah berperang disamping Rasulullah dengan memegang 2 bilah pedang. Diriwayatkan dari Jabir bahwa ketika Rasulullah shallallahu alaihi wassalam melihat Hamzah terbunuh, maka beliau menagis. Ia wafat pada tahun 3 H, dan Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam dengan “Sayidus Syuhada”.
Referensi:

Kematian

Hamzah syahid pada Perang Uhud, dibunuh oleh Wahsyi bin Harb, seorang budak EthiopiaHindun bin Utbah, istri dari Abu Sufyan bin Harb, yang ayahnya dibunuh oleh Hamzah pada Perang Badar. Hindun menjanjikan kebebasan untuk Wahsyi bila ia mampu membalaskan dendam Hindun dengan membunuh Hamzah. milik

Hakim bin Hazm

Hakim bin Hizam (Arab: حكيم بن حزم ) adalah salah satu sahabat nabi Muhammad, ia tercatat sebagai satu-satunya orang yang lahir di dalam Ka'bah.

Biografi

Sahabat Nabi yang Dermawan

Keutamaan dari Hakim yang lain adalah sikap rendah hatinya, sehingga dia sangat dihormati oleh masyarakat. Dia pun selalu bersedia membantu orang lain yang sedang tertimpa kesusahan. Ayahnya bernama Hizam, yang adalah putra dari Khuwaylid. Oleh karenanya, Hakim tak lain merupakan kemenakan Khadijah, istri Rasulullah, sebab Khadijah adalah putri Khuwaylid.
Kelahiran Hakim bermula ketika berlangsung sebuah acara festival di Mekkah. Sang ibu yang tengah hamil tua, bersama beberapa wanita, lantas masuk ke dalam Kabah untuk berdoa, sebagaimana kebiasaan saat festival. Akan tetapi, secara tiba-tiba, perut sang ibu mendadak sakit dan merasa hendak melahirkan. Dia tidak kuat lagi untuk bergerak dan terpaksa dibaringkan di Kabah. Sesudah dipersiapkan persalinannya, tak lama kemudian seorang bayi terlahir ke dunia kemudian diberi nama Hakim.

Kaya dari kecil

Hakim dibesarkan di keluarga berada. Dia pun benar-benar menikmati statusnya sebagai anak dari keluarga terpandang di Makah. Meski demikian, orangtua Hakim tidak serta merta memanjakannya, bahkan dia diberi tanggungjawab untuk melaksanakan rifadah, yakni membantu siapa saja yang membutuhkan pertolongan, terutama pada musim haji. Hakim pun benar-benar melaksanakan amanat itu dengan penuh keikhlasan bahkan tak jarang dia membantu para jamaah haji menggunakan uangnya sendiri.
Hakim pun bersahabat erat dengan Muhammad, jauh sebelum beliau menjadi Rasul. Kendati usianya lima tahun lebih tua dari Rasulullah, namun hal tersebut tidak menghalangi hubungan keduanya. Mereka kerap berbincang serta menikmati kebersamaan sebagai sahabat. Hubungan pertemanan antara Rasulullah dan Hakim menjadi kian dekat manakala Rasul menikah dengan bibinya, Khadijah binti Khuwaylid.
Patut dicatat, meski lama bersahabat dengan Rasul, tapi Hakim tidak memeluk Islam hingga peristiwa penaklukan Makkah. Itu berarti lebih dari 20 tahun setelah Islam didakwahkan secara terang-terangan oleh Muhammad. Terhadap hal itu, Hakim sendiri merasa menyesal dengan apa yang sudah dilakukannya sebelum memeluk agama Islam. Ketika pertama kali mengucap dua kalimah syahadat, dia benar-benar amat bersalah serta menyesali setiap detik dalam hidupnya sebagai seorang musyrik dan menolak kebenaran dari Allah dan Rasul-Nya.
Sehari setelah dia masuk Islam, seorang anaknya melihat Hakim nampak menangis. Maka bertanyalah sang anak, "Mengapa ayah menangis?" Hakim menjawab sambil tersedu, "Banyak hal yang membuatku menangis, anakku. Yang terutama adalah begitu lamanya waktu bagi aku untuk memeluk Islam. Padahal, dengan menerima ajaran Islam banyak kesempatan dapat diraih untuk melaksanakan kebaikan, namun itulah yang nyatanya telah aku lewatkan. Hidupku tersia-sia ketika terjadi perang Badar dan perang Uhud.
Setelah Uhud, aku berkata pada diri sendiri, bahwa aku tidak akan lagi membantu kaum kafir Quraisy melawan Muhammad, dan aku tidak ingin meninggalkan Makkah. Saat aku merasa ingin menerima Islam, aku segera berpaling dan melihat orang-orang di sekelilingku yang kebanyakan kaum kafir Quraisy, untuk kemudian bergabung kembali dengan mereka. Oh andai aku tidak berlaku seperti itu. Tidak ada yang dapat menghancurkan kita selain ketaatan buta kita terhadap nenak moyang. Jadi, kenapa aku tidak menangis, anakku?"
Nabi Muhammad memang terkejut manakala seorang yang rendah hati dan berpengatahun seperti Hakim, tidak memeluk Islam. Untuk waktu lama, Rasul sangat berharap bahwa Hakim serta orang-orang yang sepertinya, dapat terbuka mata hati serta menerima kebenaran Islam. Malam sebelum penaklukan Makkah, Rasulullah berkata kepada para sahabat, "Ada empat orang di Makkah yang aku ingin agar mereka bersedia memeluk agama Islam." Sahabat lantas bertanya, "Siapa saja mereka itu ya Rasul?" "Mereka antara lain Attab bin Usayd, Jubayr bin Mutim, Hakim bin Hazm dan Suhayl bin Amr," jawab Rasul. "Dengan ridho Allah, mereka akan menjadi Muslim."
Ketika pasukan Islam masuk kota Makkah dan membebaskan kota itu dari jahiliyah, ia lantas berseru, "Siapa saja yang bersedia mengakui tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, maka dia akan selamat..Siapa saja yang berlindung di Kabah serta meletakkan senjatanya, dia juga akan selamat. Siapa saja yang masuk dan berlindung di rumah Abu Sufyan, dia selamat. Dan siapa saja yang masuk dan berlindung di rumah Hakim ibn Hazm, dia selamat."
Tak berapa lama, Hakim pun bersegera memeluk Islam dengan sepenuh hati. Dia lantas bertekad untuk menebus segala dosa yang pernah dia perbuat semasa hari-hari jahiliyahnya serta apapun yang pernah dia lakukan untuk menentang Rasulullah. Dia ingin menebusnya demi kemuliaan Islam.

Rajin berderma

Pada masa itu, Hakim merupakan pemilik dari sebuah bangunan bersejarah di Makkah bernama Dar an-Nadwah. Di tempat itu, biasanya para pemuka Quraysy berkumpul dan berdiskusi tentang banyak hal. Mereka pun banyak membuat rencana jahat terhadap Nabi Muhammad di sana. Hakim memutuskan untuk menjual bangunan itu, demi menghapus kenangan kelam masa lalu. Dijualnya bangunan tersebut seharga 100 ribu dirham. Seorang kemenakannya pun bertanya, "Anda telah menjual bangunan berharga itu kepada orang Quraisy, paman?"
Dengan sabar Hakim menjawab, "Kebanggaan dan kejayaan semu kini telah hilang dan berganti nilai takwa. Aku hanya menjual sebuah bangunan namun hdengan harapan dapat menggantinya nanti di syurga. Dan aku berjanji akan mendermakan seluruh hasil dari penjualan ini di jalan Allah."
Bukan hanya itu saja. Saat melaksanakan ibadah haji, dia menyembelih sekitar 100 ekor unta serta membagi-bagikan dagingnya kepada kaum fakir miskin di Makkah. Demikian pula ketika di padang Arafat, bersamanya ada sebanyak 100 budak, dan setelah memberikan masing-masing segenggam perak, para budak itu pun dibebaskannya.
Hakim memang amat dermawan dan di saat yang sama dia selalu ingin mendapatkan lebih. Seusai perang Hunain, dia meminta sejumlah pampasan perang kepada Rasul. Dia kemudian meminta lebih dan Rasul kembali memberikannya. Hakim belum lama memeluk Islam akan tetapi Rasul amat pemurah kepada mereka yang baru memeluk Islam agar mereka bersedia menerima Islam sepenuhnya. Hakim pun mendapat pampasan perang dalam jumlah cukup banyak.
Maka Rasul pun berkata kepada Hakim, "Wahai Hakim! Segala harta benda ini amatlah menarik. Siapa saja yang memilikinya dan merasa puas dengannya akan diberkahi sebaliknya siapa yang merasa tidak puas, tidak akan diberkahi. Dia akan seperti orang makan namun tidak pernah merasa kenyang. Tangan di atas lebih baik dari tangan yang di bawah."
Petuah Rasul ini sangat membekas di hatinya. Dia merasa tersentuh dan lantas berkata kepada Rasul,"Ya utusan Allah, aku tidak akan meminta kepada siapa pun selain kamu untuk apa pun." Sejarah mencatat, Hakim benar-benar menepati ucapannya. Sahabat Rasul ini tidak pernah meminta apapun juga kepada orang lain hingga dia meninggal dunia.

Bilal bin Rabah

Bilal bin Rabah (Bahasa Arab بلال بن رباح) adalah seorang budak berkulit hitam dari Habsyah (sekarang Ethiopia) yang masuk Islam ketika masih diperbudak. Setelah majikannya mengetahui bahwa Bilal masuk Islam, maka Bilal disiksa terus menerus setiap harinya guna mengembalikannya agar tidak memeluk Islam. Tetapi Bilal tidak mau kembali kepada kekafirannya dan tetap melantunkan "Allahu Ahad, Allahu ahad...".Pada akhirnya Bilal dimerdekakan oleh Abu Bakar dan menjadi sahabat setia Rasulullah saw sampai-sampai Bilal dalam sebuah hadits diceritakan bahwa Rasulullah saw pernah bermimpi mendengar suara terompah Bilal di surga. Ketika hukum syariat adzan diperintahkan oleh Allah orang yang pertama kali disuruh oleh Rasulullah untuk mengumandangkannya adalah Bilal bin Rabah, ia dipilih karena suara Bilal sangat merdu.

Bilal Ibn Rabah, yang Muazzin pertama Islam, adalah salah satu pendamping paling terpercaya dan setia Nabi Muhammad (SAW). Dia adalah model sebenarnya dari moral dan adat istiadat Islam. Dia dihargai cinta tak terbatas untuk Nabi (SAW) dan sangat dikhususkan untuk Islam. Dia adalah musuh bebuyutan orang-orang kafir dan musyrik tapi ini tidak terlibat perasaan pribadi. Dia memegang orang-orang kafir menghina mendalam karena mereka adalah musuh-musuh Islam dan Nabi (SAW).

Dia, umumnya, dikenal sebagai "Bilal Habashi", namun sebenarnya wajahnya tidak identik dengan orang-orang dari. 'Habashi' atau 'Zangi, kulit-Nya hitam tapi rambutnya tidak keriting, itu tebal. Sebenarnya, kulitnya coklat gelap. Tubuhnya tinggi dan ramping dan dadanya menonjol. Pipinya tipis tapi hidungnya tidak pesek. Dengan demikian, sebagai sejarawan berpendapat, ia bukan Abyssinia murni. Ayahnya adalah seorang Arab gubuk ibunya adalah seorang Abyssinia. Nama ayahnya adalah Rabah dan ibunya disebut Hamama, Sangat mungkin bahwa Hamama adalah seorang gadis budak dari Mekah atau Sarat, Sarat adalah kota antara Yaman dan Abisinia, Beberapa ahli sejarah menyatakan bahwa ia lahir di Mekah, tetapi sebagian besar dari sejarawan berpendapat bahwa Bilal lahir di Sarat, Dan pandangan yang terakhir tampaknya dapat diterima untuk bisa ada ras campuran di Sarat.

Ada juga perbedaan pendapat tentang tanggal lahirnya. Menurut beberapa sejarawan ia lahir 53 tahun sebelum Hijrah tetapi menurut la beberapa orang lain, ia lahir sekitar 43 tahun sebelum Hijrah, dan ini pandangan yang terakhir tampaknya lebih baik.

Bilal (RAA) dibesarkan di Mekah, dalam suku Quraisy terkenal disebut Abu Jamah. Selama Hari Ketidaktahuan, anggota suku ini dianggap sebagai ahli dalam seni ramal tapak tangan-membaca garis tangan. Mereka juga menarik banyak keluar dengan bantuan panah. Suku ini memiliki sengketa konstan dengan Bani Abd Manaf karena, ketika ada konflik antara Bani Abd Manaf dan Bani Abdul Dar, mereka telah berpihak pada yang terakhir, The Muazzins lain dari Nabi (SAW) - Abu Mahzura dan Amr bin Ummi Kulsum -juga dibesarkan di suku Abu Jamah. Sulit untuk menyatakan apakah itu kebetulan atau itu karena melodi dan harmoni suara.

Tidak diketahui dengan keaslian mengenai siapa di antara suku Bani Jamah adalah tuan Bilal dan ayahnya. Beberapa telah menulis bahwa ia adalah budak seorang wanita mulia dari suku itu, sementara yang lain mengklaim bahwa seorang janda berhubungan dengan Abu Jahal adalah kekasihnya. Sekali lagi, beberapa yang lain memiliki penulis bahwa ia adalah budak dari Umaiya bin Khalaf.

Bilal (RAA) memiliki kebencian terhadap kebiasaan dan praktik yang berlaku di Hari Ketidaktahuan, Orang-orang di masa itu tidak memiliki moral yang baik, kebaikan dan nilai-nilai kemanusiaan lainnya, tipu daya telah menjadi kebiasaan mereka.

Allah telah dikaruniai Bilal dengan alam hidup benar dan tetap setia kepadanya sepanjang hidupnya. Oleh karena itu, menyatakan bahwa ia siap menanggapi panggilan dengan Utusan Allah (SAA) ketika ia keluar dengan Pesan Keesaan atau Kesatuan Allah. Ini adalah fakta menetapkan bahwa Bilal (RAA) belum memeluk Islam dengan motif duniawi atau mengamankan bantuan dari siksaan kehidupan budak Sebaliknya dengan menerima Islam, ia telah mengundang pada dirinya sendiri menyiksa intensitas bahkan treble ganda. Dia hanya punya satu tujuan dalam tampilan dan itu untuk memenangkan nikmat Allah. Allah telah diterangi hatinya dengan cahaya iman. Oleh karena itu ia mengalami segala macam kekejaman yang luar biasa dengan kesabaran dan ketabahan. Itu sesuai dengan alam untuk menerima kebenaran tanpa syarat. Begitu mendengar panggilan clarion untuk penerimaan iman dalam Satu Allah dan kesetaraan

semua manusia yang dikeluarkan oleh kepribadian mulia dari keluarga paling terhormat, Bani Hasyim, ia sekaligus membuat respon afirmatif. Hatinya sebersih Mirror, itu dipenuhi dengan perasaan kasih sayang, ketaatan ketulusan, dan pengabdian. Pikiran itu terlintas dalam pikirannya seperti kilatan petir bahwa orang yang ingin melikuidasi perbedaan kelas dalam rangka untuk menempatkan master dan slave sama, adalah orang yang termasuk kelas paling mulia di Mekah. Namun dia adalah seorang juara setia kesetaraan semua manusia, tidak bisa lebih tetapi Rasulullah Jujur dan Nabi Sang Pencipta. Dia pasti berpikir bahwa tidak mungkin bagi seseorang, yang menikmati melebihi popularitas di seluruh Mekkah dan memerintahkan respek yang dalam dari jajaran Mekkah, mengambil risiko hilangnya popularitas dan reputasi kecuali orang ini adalah Rasul Tuhan yang membuat ada diskriminasi antara tinggi dan rendah, kaya dan miskin, The Arab dan non-Arab.

Mereka yang menerima Islam pada awalnya adalah, kecuali beberapa, umumnya lemah dan tak berdaya. Mereka tidak punya pendukung atau simpatisan. Jadi orang-orang kafir yang ditimbulkan manusia tak berujung di penyiksaan pada mereka. Mengikat tali ke kaki kaum muslimin, mereka mengeringkannya di tanah berbatu-batu padang pasir. Mereka menanggalkan pakaian Muslim miskin membutuhkan dan melemparkan mereka di atas pasir yang terbakar dan sering pada bara merah, ditempatkan batu-batu berat pada tubuh mereka. Mereka memaksa mereka untuk berdiri di terik matahari. Bilal juga disiksa seperti itu, Mereka ingin dia untuk membuat pernyataan yang cocok tujuan orang-orang kafir "Tapi ia ditampilkan gigih kontrol diri, kesabaran dan ketekunan. Mereka menggunakan segala macam kekejaman untuk mengalihkan Bilal dari Iman Sejati tapi tidak bisa berhasil. Tidak ada bentuk ancaman yang tidak diadakan kacang kepadanya, dan tidak ada bentuk penyiksaan yang kafir tidak mengeksekusi pada dia, tapi Bilal (RAA) di muka semua ini, berpegang teguh pada imannya. In reply to semua pemaksaan dan penyiksaan katanya, "Tidak ada yang disembah selain Allah." Bilal master Umaiya bin Khalaf adalah penyiksa terbesar. Terlepas dari semua siksaan Bilal akan mengucapkan, "Ahad, Ahad" (Allah itu Esa, Allah itu Esa), Ketika penyiksa menantang Yesus untuk menghormati apa yang mereka katakan, Bilal akan menjawab, "Tidak, lidah saya tidak seharusnya mengucapkan apa yang Anda katakan. "

Menurut catatan sejarah, master Bilal sering mengikatnya dan melemparkannya ke bawah dan melemparkan batu dan kulit sapi di atasnya dan berkata, "Anda adalah dewa Lat dan Uzza bersaksi iman Anda di dalamnya." Tapi dia terus mengatakan "Ahad, Ahad." Orang-orang kafir diikat tali lehernya dan membiarkan anak jalanan menyeretnya ke dan dari antara dua bukit di Mekkah. Bahkan, di bawah siksaan berat, lidah Bilal diulang hanya satu kata "Ahad, Ahad." Setelah itu, orang-orang kafir memberinya pemanasan parah dan membentang dia di Sand.A pembakaran batu berat ditempatkan di atas tubuhnya, masih ia mengucapkan apa pun kecuali kata "Ahad, Ahad."

Suatu hari Abu Bakar Siddiq melihat penderitaan menyentuh hati Bilal (RA A.) dan dia datang untuk menyelamatkannya. "Berapa lama Anda menindas orang ini miskin?" kata Abu Bakar untuk menguasai Bilal dan membelikannya membayar pria Uqia (sekitar 23 gram emas) untuk tuannya. Siddiq kemudian menyatakan Bilal (R.A.A.) orang bebas. Dengan bertahan segala macam kekejaman dan penghinaan di jalan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, Bilal (RAA) memberikan contoh dan lampu suar sampai akhir dunia ini, untuk para pencari setelah Kebenaran dan Kebenaran. Dia tahu benar konsekuensi dari pengabdian menyangkal penyembahan berhala dan persembahan kepada Satu Tuhan Allah, namun begitu dalam adalah jejak kehidupan orang benar dan moral yang baik yang tak tertandingi dari Nabi (SAW) setelah hatinya bahwa tidak ada tingkat penindasan dan biadab kekerasan bisa menghapuskan itu.

Beberapa negara sejarawan bahwa ketika harga Bilal itu dibayar, master Bilal meningkat harga dari 7 sampai 9 Uqias Uqias dan Abu Bakar berkata kepadanya, "Bahkan jika Anda menaikkan harga sampai 1000 Uqias, saya pasti akan membelinya."

Disebutkan bahwa Siddiq membeli Bilal pada saran dari Rasulullah (saw) dan Nabi (SAW) juga menawarkan kepadanya setengah dari harga untuk mengurangi beban Siddiq. Tapi Siddiq memohon pengampunan dari Nabi (SAW) untuk tidak menerima tawaran ini dan dia sendiri Bilal emansipasi. Dia kemudian menunjuk Bilal (RAA.) Sebagai miliknya toko-penjaga. Kemudian Bilal dibuat untuk melayani kepada Rasulullah (SAW). Ketika Nabi (SAW) memberikan izin kepada para sahabatnya untuk bermigrasi, Bilal, bersama dengan para sahabat lain dari Nabi (SAW), bermigrasi ke Madinah. Di Medina Bilal tinggal di rumah yang sama dengan Abu Bakar Siddiq dan Aamir bin-Fahria. Di Madinah ketika Nabi (SAW) yang ditetapkan ikatan persaudaraan antara 'Muhajirin' (Migran) dan 'Ansar' (pembantu), Bilal dan Abu Rouwaiha (RAA) adalah saudara bagi satu sama lain. Ini menjelaskan bahwa Abu Rouwaiha (RAA) bukanlah saudara kandung dari Bilal (RAA)

Seperti di Mekah, sehingga di Madinah, Bilal tidak tahan berpisah dari Nabi (SAW). Dia selalu menemani Nabi (SAW) dalam semua perang Kudus yang terlihat terjadi selama masa hidup Nabi saw. Dia juga tetap dengan Nabi (SAW) dalam semua perjalanan dia melakukan. Dengan alasan ini bahwa ia diangkat Muslim pertama Nabi (SAW).

Bilal (RAA) terus jabatan Muazzin Masjid Nabi sampai Nabi (SAW) meninggalkan dunia ini untuk tempat tinggal surgawinya Dia lebih menyukai semua Mauzzins selama hidup Nabi, penyebab preferensi ini keberadaannya diutamakan dalam merangkul Islam, suaranya kaya dan merdu dan ucapan yang sangat bagus. Ketika ia membacakan panggilan doa dan ingin menginformasikan Nabi (SAW) bahwa waktu untuk berdoa terkemuka telah datang, ia akan berdiri di pintu kamar Nabi dan akan berteriak "segeralah untuk shalat, segeralah untuk kesejahteraan. Ya Rasulullah, doa. " Mendengar kata-kata nya Nabi akan datang untuk memimpin doa. Bilal (RAA) akan mengatakan Iqama sebelum shalat dimulai. Sementara akan Salat-el-Idul Fitri atau Salat Istisqa-(doa untuk hujan), Bilal digunakan untuk berjalan di depan Nabi (SAW) memegang tombak dan akan pitch di tanah satu atau dua meter jauhnya dari tempat di mana Nabi (SAW) ingin memimpin jemaah shalat. Tombak itu adalah salah satu dari tiga, yang dikirim oleh Raja Abyssinia sebagai penghormatan kepada Nabi (SAW), Nabi (SAW), salah satu berbakat dari tiga tombak untuk Umar (RAA) dan terus yang ketiga dengan dirinya sendiri, demikian Bilal mendapat kehormatan untuk menjaga tombak Nabi sepanjang hidupnya.

Tradisi menyebutkan bahwa pernikahan Bilal telah diatur oleh Nabi (SAW) sendiri, Hal ini menyatakan bahwa anak-anak Abul satu hari Bukair datang kepada Nabi Suci (saw) dan berkata, "0 Rasulullah, menemukan kecocokan untuk kami adik. "Nabi saw mengamati," Mengapa kamu tidak menikahinya untuk Bilal Mendengar ini mereka kembali, tapi setelah beberapa hari mereka datang lagi dan mengulangi permintaan yang sama, dan Nabi Suci (SAW) memberikan jawaban yang sama. Jadi setelah beberapa hari mereka datang untuk ketiga kalinya dengan permintaan yang sama saat ini juga Nabi (SAW) memberikan jawaban yang sama menambahkan,. "Bilal adalah narapidana surga;. Anda harus menikahi adik Anda kepadanya" Jadi, setelah mendengar Nabi saran, mereka menikahi saudara mereka untuk Bilal. Bilal (RAA) mengambil lagi beberapa istri setelah menikah ini Menurut Qatadah ia menikah dengan seorang wanita dari suku Banu Zuhra.. Hal ini juga mencatat bahwa salah satu istri-istrinya adalah Hin-ul-Khulania yang milik Yaman. Bilal tidak memiliki masalah dari salah satu nya.

Setelah Bilal berhubungan dengan istrinya Tradisi Nabi (SAW) tapi istrinya menyatakan beberapa keraguan tentang keaslian laporannya. Bilal dalam suasana hati yang marah pergi kepada Nabi (SAW) dan menceritakan perselisihannya dengan istrinya, Nabi Suci (SAW) pergi dengan dia ke rumahnya dan diamati untuk istrinya, "Anda harus mengambil kata-kata Bilal untuk setiap Tradisi tambang , dan tidak memberinya alasan untuk marah. "

Bilal (RAA) telah menyerah Azan mengumumkan setelah kematian Nabi (SAW). Dia dihargai cinta yang begitu dalam bagi Nabi (SA W.) bahwa ia tidak dapat tahan membayangkan mengumumkan panggilan setelah kematiannya. Bahkan ia digunakan untuk mengumumkan terutama untuk Master, Nabi (SAW), sebagai tanggapan terhadap yang Nabi (SAW) akan datang untuk berdoa. Selama tinggal di Madinah dan Suriah, setelah wafatnya Nabi HoIy (SAW), orang membuat permohonan kepadanya beberapa kali untuk memanggil Azan, tapi dia selalu menolak, kecuali sekali ketika Umar (RAA) telah mengunjungi Damaskus dan meminta Bilal untuk memanggil Azan itu. Dia memenuhi permintaan khalifah, dan ini adalah panggilan terakhirnya itu, ia disampaikan dalam hidupnya. Segera setelah berita itu sempat Bilal yang akan memberikan Azan untuk shalat Fajar, sebuah kegembiraan besar diamati di kalangan masyarakat. Semua orang bergegas menuju masjid dengan suka cita dan dalam keadaan hiruk pikuk pikiran Begitu suara Bilal bergema di udara, itu menghasilkan kegembiraan besar di kalangan masyarakat. Mereka dipanggil kembali ke imajinasi mereka saat-saat ketika Nabi (SAW) masih hidup dan Bilal digunakan untuk membaca Azan itu. Tercatat dalam sejarah bahwa seluruh jemaat dalam ledakan masjid menangis Umar (RAA) dan paling berani dari prajurit Islam, yang hadir di sana, tidak bisa memeriksa sendiri sehingga semua menangis.

Beberapa sarjana berpendapat bahwa bentuk ritmis sekarang dari resital dari Azan di dunia Muslim, adalah sama seperti yang berasal oleh Bilal. Satu hal,

Namun, harus diperjelas dalam hubungan ini. Nabi (SAW) tidak menunjuk Bilal sebagai Muazzin untuk irama atau melodi nya mengagumkan aturan tapi kesalehan melebihi, pengabdian untuk menyembah dan teratur

hadir di masjid bahwa pilihan Nabi (SAW) jatuh sebuah dia untuk kinerja tugas penting.

Hal ini dilaporkan dalam Hadis bahwa Nabi (SAW) memberikan perhatian dekat dengan pendidikan dan pelatihan Bilal (RAA). Setelah Nabi (SAW) berkata, "Wahai Bilal, Akta terbaik bahwa seorang percaya dapat melakukan adalah berjuang untuk jalan Allah. Nabi (SAW) juga mengajarkan kerendahan hati tentang" 0 Bilal selalu hidup dalam kerendahan hati dan dengan kepuasan dan mati dengan mereka yang merasa puas. "

Nabi (SAW), off dan memberinya instruksi mengenai distribusi kekayaan kelebihan dengan dia yaitu Nabi (SAW) Dia akan berkata, "Bilal, sejumlah kekayaan telah terakumulasi dengan saya, saya tidak ingin menyimpannya, sehingga mengambilnya dan memberikannya kepada yang membutuhkan sehingga hati saya mungkin ia diringankan dari bebannya "Sebenarnya Rasulullah (SAW) yang dimaksudkan untuk mengajarkan Bilal dengan contoh bagaimana seorang pria harus menumbuhkan kebajikan kepuasan dalam hidup dan menjauhkan diri dari kekayaan. Bilal diamati dengan perhatian besar semua petunjuk dan preseden Nabi dan terbukti ia seorang pengikut sejati dan pemuja Nabi (SAW) sampai akhir hidupnya. Dia hadir konstan pada hari Nabi (SAW) dan malam, karena ia berasal kesenangan dari pandangan, cinta dan kebaikan. Dia melakukan tugas-tugas seorang pembantu pada Nabi dalam segala situasi, selama perjalanan dan tinggal di kamp, ​​dalam perang dan damai, tetapi tidak pernah diperlakukan seperti seorang hamba oleh Rasulullah (SAW), Bilal mengungkapkan pengabdian yang mendalam untuk tuannya dan pemimpin , Dia tidak tahan bahkan ketidaknyamanan sedikit pun Nabi (SAW) dan masih hidup siap untuk menanggapi panggilan majikannya. Sepanjang pertempuran ia terus berjalan antara perkemahan Nabi dan medan perang, membawa komunikasi, perintah dan petunjuk dari Nabi (SAW) kepada pasukan ketika Nabi (SAW) membuat entri kemenangan ke dalam kota Mekkah dan Nabi (SAW. ) menandatangani Kudus Ka'bah, ada tiga orang. menyertainya dan salah satunya adalah Bilal (RAA), dua lainnya adalah Usman-bin-Thalhah, kunci-pembawa Ka'bah dan Usman bin Zaid (RAA). Bilal melakukan tugas membacakan panggilan untuk doa.

Dia membacakan Azan untuk beberapa hari hanya setelah wafatnya Nabi (SAW) lalu meminta Abu Bakar Siddiq (RAA) Khalifah untuk membebaskannya dari tugas menelepon Azan, dan memberinya izin untuk pergi ke Suriah dengan Mujahidin (tentara). Disebutkan bahwa ketika dalam ketiadaan Nabi (SAW) dia mengucapkan nama Nabi sambil menelepon Azan, dia tidak tahan tidak adanya tuannya dan menangis tak terkendali. Pendengarnya juga, terserang kesedihan, rusak. Dia merasa tertindas di Madinah tanpa Nabi, sehingga meskipun menjadi enam puluh tahun usia, ia memutuskan untuk meninggalkan kehidupan yang damai di Madinah dan mengabdikan sisa hari-harinya untuk perang suci di

jauh-jauh tanah. Dia kemudian berpartisipasi dalam sejumlah pertempuran. Dia kemudian pergi ke bagian kecil tanahnya di pinggiran kota Damaskus, yang dibudidayakan dan hidup di produknya. Tidak diketahui berapa lama Bilal (RAA) tetap di perusahaan Abu Bakar (RAA).

Setelah masa pemerintahan khalifah pertama, Bilal ditugaskan beberapa tugas kenegaraan, Tercatat dalam sejarah bahwa ketika Khalifah kedua Umar Bin Khattab (RAA) dipanggil Khalid-ibn El Walid - Pedang Allah-untuk menjelaskan sehubungan dengan beberapa dari dugaan penyimpangan dan kesalahan, itu adalah Bilal yang melepas sorban Khalid dari kepalanya dan diikat tangannya dengan jika dalam perakitan terbuka dan tidak melepaskan dia sampai Khalid (RAA) telah melengkapi penjelasan yang memuaskan dari semua tuduhan yang dibuat terhadap dirinya. Setelah itu dia meminta maaf yang tulus kepada Khalid (RAA).

Ada lagi episode yang mengungkapkan penghargaan tinggi di mana Bilal diselenggarakan oleh Umar. Disebutkan bahwa suatu hari Abu shufyan-bin-Harb, Suhail-bin-Amr dan beberapa Kepala lain Arab yang menonjol datang ke Khalifah untuk wawancara. Secara kebetulan Bilal dan Sahib (mantan budak) juga tiba untuk memenuhi khalifah, Ketika Umar mengetahui kedatangan mereka ia dipanggil Bilal dan Sohaib sekaligus dan Kepala Arab, yang datang lebih awal, berdiri menunggu di luar. Abu Sufyan tidak bisa menahan diri beralih ke teman-temannya ia mengatakan, "Itu adalah nasib kita untuk bertahan aib ini Budak-budak dirawat penonton sementara kami para bangsawan Arab tinggal di pintu,."

Mendengar pernyataan ini Suhail bin Amr menukas, "Tapi siapa yang harus disalahkan untuk ini Rasul Allah mengundang kita semua dengan satu suara tapi? Kita membantah seruannya dan menawarkan perlawanan berat kepadanya Di sisi lain ini budak maju ke depan" dan membuat respon positif, Ini adalah hak mereka sekarang untuk mendapatkan preferensi di atas kita di dunia ini dan berikutnya. Kami tidak punya alasan untuk mengeluh, "

Selama kekhalifahan Umar (RAA), ketika register gaji dan tunjangan lainnya sedang disiapkan, khalifah mengirim surat kepada Bilal - yang bersama tentara di Suriah - memintanya untuk intim dengan siapa namanya harus dimasukkan.

"Masukkan nama saya dengan Abu Rouwaiha yang saya tidak akan pernah meninggalkan karena ikatan persaudaraan yang didirikan oleh Nabi (SAW) antara dia dan aku," jawab Bilal (RAA).

Kecuali episode disebutkan di atas, sejarah memoles ada catatan lebih lanjut dari hidupnya setelah kematian Nabi (SAW), Tercatat bahwa ia telah bergabung dengan Tentara Muslim dalam Perang Suci di Suriah. Tapi ia benar-benar dipisahkan diri dari kehidupan publik pada tahap penutupan hidupnya, Seperti yang telah kita dinyatakan di atas, ia memperoleh sebidang tanah di pinggiran Damaskus dan melewati hari-harinya dengan tenang dan isolasi, Setelah ini tidak ada mendengar tentang dia tapi ia terlihat di depan umum ketika ia disebut Azan untuk Khalifah Umar (RAA) atas permintaan para sahabat terkemuka Nabi (SAW).

Itu adalah tahun 20 Hijrah ketika Bilal (RAA) berakhir di Damaskus. Dia tujuh puluh ketika ia meninggal. Dia meninggal karena wabah seperti wabah. Hal ini menyatakan bahwa ia pada usia yang sama adalah Abu Bakar Siddiq (RAA). Menjelang ajalnya, dia sangat senang pada prospek bertemu tuannya, Nabi (SAW) dan para sahabatnya yang sudah pergi ke dunia berikutnya. Ketika istrinya menangis di samping tempat tidur dan mulai menangis dengan sedihnya, dia menghibur dirinya dengan mengatakan:

"Jangan menangis Mengapa engkau menangis '!. L saya melihat ke depan untuk melihat tuanku, Nabi (SAW) dan sahabat lainnya setelah sekian lama perbaikan. Jika Allah menghendaki aku akan menemui mereka besok semua." Dan dia benar-benar berakhir lusa, "Innalillah-e-Wa Inna Ilai-he-Raje-oon."

Ia dimakamkan di Damaskus, dekat 'Bab-as-Shaghir. Makamnya bahkan hari ini resor favorit orang banyak pengunjung, People, tinggi dan rendah, datang untuk menawarkan doa-doa (Fateha) di kuburnya.

Di antara orang kredibilitas Bilal adalah e tinggi bahwa mereka lebih suka kafir mata mereka sendiri Dari meragukan laporan Bilal dari setiap Tradisi Nabi (SAW), karena dia membayar hal terbesar untuk kebenaran dalam segala hal mengenai tindakan atau ajaran Nabi Suci (SAW,), serta dalam urusan orang lain. Ketika Abu Rouwaiha (RAA) saudaranya-in-Islam, ingin kontrak pernikahan dengan seorang wanita dari suku terhormat, ia meminta Bilal untuk bersyafaat atas namanya. Bilal pergi bersamanya dan mengatakan dalam hal jelas bagi wali pengantin wanita, "Aku Bilal-bin-Ribah dan ini saudaraku Abu Rouwaiha, yang ingin membangun hubungan perkawinan dengan Anda. Jadi, saya harus menunjukkan bahwa dia yang sangat pemarah pria. Terserah Anda untuk memberikan putri Anda menikah dengan dia atau menolak. " Mendengar kesaksian ini jelas Bilal orang tua dari ady menerima usulan Abu Rouwaiha (RAA), karena mereka tidak bisa mengabaikan rekomendasi Bilal.

Melihat berbagai aspek kehidupan Bilal kita sampai pada kesimpulan yang jelas bahwa fitur paling menonjol dari hidupnya adalah kejujuran dan integritas. Ia pada akun ini bahwa Nabi (SAW) memiliki dipercayakan kepada Bilal pengelolaan Baitul Mal (Kas Negara). Dia juga bertanggung jawab atas rumah tangga Nabi (SAW). Dia tetap dekat di tangan bahkan pada saat keberangkatan Nabi untuk rumah surgawi dan termasuk di antara sedikit yang dipilih yang melakukan upacara pemakaman Nabi (SAW). Saat itu Bilal yang ditaburi air dari kantong kulit atas kuburan Nabi (SAW), dan dengan demikian, mendapatkan hak istimewa jarang mengelola upacara pemakaman terakhir.

Bilal, karena kesungguhannya, adalah seorang ekstremis oleh alam. Dia mencintai intens dan membenci intens. Dia mencintai intens Allah dan Rasul-Nya (SAW) dan sangat dikhususkan untuk Islam, tapi dia, pada saat yang sama, musuh bebuyutan dari orang-orang kafir dan musyrik, dan dia tidak pernah mencoba untuk menyembunyikan perasaannya dan penghinaan untuk mereka.

Bilal (RAA) meninggalkan warisan tidak dalam bentuk kekayaan materi atau keturunan, tapi ia meninggalkan peringatan rohani yang unik di dunia, yaitu Azan. Panggilan untuk doa telah dibacakan terus menerus di dunia, untuk empat belas ratus tahun terakhir Islam, dan sebagai orang mendengar panggilan itu ingat dalam pikiran memori Muazzin Pertama Islam, Bilal bin Ribah (Radia Allahu 'Anhu) .