Jumat, 17 Februari 2012

Abu Qatadah

Qatada bin al-Nu'man (Arab:قتدة بن النعمان) adalah Sahabat Nabi Muhammad. Abu Qatadah yang bernama asli Abdul Khatib merupakan penduduk Madinah, sehingga disebut golongan Anshar. Dalam Pertempuran Uhud, mata beliau terluka hingga lepas dari rongga mata, kemudian Nabi Muhammad dengan didahului dengan doa mengembalikan bola mata Abu Qatadah seperti sedia kala.

Hasan al-Bashri

Hasan Al Bashri (Madinah, 642 - 10 Oktober 728) adalah ulama dan cendekiawan muslim yang hidup pada masa awal kekhalifahan Umayyah.
Hasan Al Bashri berguru pada para sahabat Nabi, antara lain Utsman bin Affan, Abdullah bin Abbas, Ali bin Abi Talib, Abu Musa Al-Asy'ari, Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah and Abdullah bin Umar.
Nama lengkap Hasan Al Bishri ialah Abu Said Al Hasan bin Abi Al Hasan bin Yasar Al Bishri adalah Maula Al Anshari. Ibunya bernama Khairah, budak Ummu Salamah yang di merdekakan, dikatakan Ibnu Sa’ad dalam kitab tabaqat Hasan adalah seorang alim yang luas dan tinggi ilmunya, terpercaya, seorang hamba yang ahli ibadah lagi pula fasih bicaranya . Beliau salah seorang fuqaha yang berani berkata benar dan menyeru kepada kebenaran dihadapan para pembesar negeri dan seorang yang sukar diperoleh tolak bandingnya dalam soal ibadah . Beliau menerima hadits dari Abu Bakrah, Imran bin Husein, Jundub, Al Bajali, Muawwiyah, Anas, Jabir dan meriwayatkan hadits dari beberapa sahabat diantaranya ‘Ubay bin Ka’ab, Saad bin Ubadah, Umar bin Khattab walaupun tidak bertemu dengan mereka atau tidak mendengar langsung dari mereka. Beliau adalah ulama ternama di Basrah, Imam Al Bagir ra. Mengatakan,’’ Jika di sebutkan tentang ketokohan Al Hasan artinya yang dimaksud ucapan Al Hasan menyerupai ucapan para Nabi, Beliau wafat tahun 110 H. dalam usia 88 tahun dan kemudian hadits-hditsnya diriwayatkan oleh Jarir bin Abi Hazim, Humail At Thawil, Yazid bin Abi Maryam, Abu Al Asyhab, Sammak bin Harb, Atha bin Abi Al Saib, Hisyam bin Hasan dan lain-lain.

Uwais al-Qarny

Uwais Al-Qarny (Arab: أويس القرني) (meninggal 657) adalah penduduk dari Qaran di Yaman.

Keutamaan Uwais al-Qarny

Dia, jika bersumpah demi Allah pasti terkabul. Pada hari kiamat nanti ketika semua ahli ibadah dipanggil disuruh masuk surga, dia justru dipanggil agar berhenti dahulu dan disuruh memberi syafa'at, ternyata Allah memberi izin dia untuk memberi syafa'at sejumlah qobilah Robi'ah dan qobilah Mudhor, semua dimasukkan surga tak ada yang ketinggalan karenanya. Dia adalah "Uwais al-Qarni". Ia tak dikenal banyak orang dan juga miskin, banyak orang suka menertawakan, mengolok-olok, dan menuduhnya sebagai tukang membujuk, tukang mencuri serta berbagai macam umpatan dan penghinaan lainnya.
Seorang fuqoha' negeri Kuffah, karena ingin duduk dengannya, memberinya hadiah dua helai pakaian, tapi tak berhasil dengan baik, karena hadiah pakaian tadi diterima lalu dikembalikan lagi olehnya seraya berkata, "Aku khawatir, nanti sebagian orang menuduh aku, dari mana kamu dapatkan pakaian itu, kalau tidak dari membujuk pasti dari mencuri".

Biografi

Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan, kulitnya kemerah-merahan, dagunya menempel di dada selalu melihat pada tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, ahli membaca Al-Qur'an dan menangis, pakaiannya hanya dua helai sudah kusut yang satu untuk penutup badan dan yang satunya untuk selendangan, tiada orang yang menghiraukan, tak dikenal oleh penduduk bumi akan tetapi sangat terkenal di langit.
Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi yatim, tak punya sanak famili kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh. Hanya penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama Sang ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya.
Kesibukannya sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak memengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya.
Uwais al-Qarni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar seruan Nabi Muhammad SAW. yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tak ada sekutu bagi-Nya. Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur.
Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya sangat menarik hati Uwais, sehingga setelah seruan Islam datang di negeri Yaman, ia segera memeluknya, karena selama ini hati Uwais selalu merindukan datangnya kebenaran. Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad SAW secara langsung. Sekembalinya di Yaman, mereka memperbarui rumah tangga mereka dengan cara kehidupan Islam.
Alangkah sedihnya hati Uwais setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka itu telah "bertamu dan bertemu" dengan kekasih Allah penghulu para Nabi, sedang ia sendiri belum. Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk bertemu dengan sang kekasih, tapi apalah daya ia tak punya bekal yang cukup untuk ke Madinah, dan yang lebih ia beratkan adalah sang ibu yang jika ia pergi, tak ada yang merawatnya.
Di ceritakan ketika terjadi Pertempuran Uhud Rasulullah SAW mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Kabar ini akhirnya terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada beliau SAW, sekalipun ia belum pernah melihatnya. Hari berganti dan musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, kapankah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah beliau dari dekat?
Tapi, bukankah ia mempunyai ibu yang sangat membutuhkan perawatannya dan tak tega ditingalkan sendiri, hatinya selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa. Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi menziarahi Nabi SAW di Madinah. Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya.
Beliau memaklumi perasaan Uwais, dan berkata, "Pergilah wahai anakku! temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang". Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi.
Sesudah berpamitan sambil menciumi sang ibu, berangkatlah Uwais menuju Madinah yang berjarak kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman. Medan yang begitu ganas dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir, bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari, semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras baginda Nabi SAW yang selama ini dirindukannya. Tibalah Uwais al-Qarni di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi SAW, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah sayyidatina 'Aisyah r.a., sambil menjawab salam Uwais.
Segera saja Uwais menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata beliau SAW tidak berada di rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi SAW dari medan perang.
Tapi, kapankah beliau pulang ? Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman," Engkau harus lekas pulang".
Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi SAW. Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada sayyidatina 'Aisyah r.a. untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan perasaan haru.
Sepulangnya dari perang, Nabi SAW langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda Rosulullah SAW, sayyidatina 'Aisyah r.a. dan para sahabatnya tertegun. Menurut informasi sayyidatina 'Aisyah r.a., memang benar ada yang mencari Nabi SAW dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama.
Rasulullah SAW bersabda : "Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya." Sesudah itu beliau SAW, memandang kepada sayyidina Ali bin Abi Thalib k.w. dan sayyidina [[Umar bin Khattab] r.a. dan bersabda, "Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah do'a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi".
Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat, hingga kekhalifahan sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. telah di estafetkan Khalifah Umar r.a. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi SAW. tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Ia segera mengingatkan kepada sayyidina Ali k.w. untuk mencarinya bersama. Sejak itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka.
Di antara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau berdua. Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka.
Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, segera khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu mengatakan bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas pergi menemui Uwais al-Qorni.
Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. memberi salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan salat. Setelah mengakhiri shalatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais, sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi SAW. Memang benar! Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut, siapakah nama saudara ? "Abdullah", jawab Uwais.
Mendengar jawaban itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan, "Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?" Uwais kemudian berkata, "Nama saya Uwais al-Qorni".
Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali k.w. memohon agar Uwais berkenan mendo'akan untuk mereka.
Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah, "Sayalah yang harus meminta do'a kepada kalian". Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata, "Kami datang ke sini untuk mohon do'a dan istighfar dari anda".
Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo'a dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata, "Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi".
Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam tak terdengar beritanya. Tapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan di tolong oleh Uwais, waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin topan berhembus dengan kencang. Akibatnya hempasan ombak menghantam kapal kami sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat. Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan salat di atas air.
Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu. "Wahai waliyullah," Tolonglah kami!" tetapi lelaki itu tidak menoleh. Lalu kami berseru lagi, "Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!" Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata,
"Apa yang terjadi ?"
"Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan dihantam ombak?" tanya kami.
"Dekatkanlah diri kalian pada Allah!" katanya.
"Kami telah melakukannya."
"Keluarlah kalian dari kapal dengan membaca bismillahirrohmaani rrohiim!"
Kami pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu. Pada saat itu jumlah kami lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam, sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut.
Lalu orang itu berkata pada kami ,"Tak apalah harta kalian menjadi korban asalkan kalian semua selamat". "Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan ? "Tanya kami.
"Uwais al-Qorni". Jawabnya dengan singkat.
Kemudian kami berkata lagi kepadanya, "Sesungguhnya harta yang ada dikapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir."
"Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?" tanyanya.
"Ya, "jawab kami. Orang itu pun melaksanakan salat dua rakaat di atas air, lalu berdo'a. Setelah Uwais al-Qorni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membagi-bagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak satupun yang tertinggal.
Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah pulang ke Rahmatullah.
Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya.
Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.
Dan Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan, "ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk kembali ke tempat penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas kuburannya. (Syeikh Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qorni pada masa pemerintahan sayyidina Umar r.a.)
Meninggalnya Uwais al-Qorni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan orang.
Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, "Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qorni? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa "Uwais al-Qorni" ternyata ia tak terkenal di bumi tapi terkenal di langit.

Uwais al-Qarani
oleh Syaikh Muhammad Sa'id al-Jamal ar-Rifa'i

Dalam sebuah Hadis Qudsi dicatat oleh Sahabat Abu Hurairah, ra dengan dia, Nabi Muhammad (saw) berkata berbicara dari Tuhannya:

"Allah, Yang Maha Perkasa dan adalah Dia, mengasihi ciptaan-Nya yang takut akan Allah, yang suci hatinya, mereka yang tersembunyi, dan mereka yang tidak bersalah, yang wajahnya berdebu, yang rambutnya terawat, yang perutnya kosong, dan yang, jika ia meminta izin untuk masuk ke penguasa, tidak diberikan, dan jika ia meminta seorang wanita lembut dalam pernikahan, ia akan menolak, dan ketika ia meninggalkan dunia itu tidak merindukannya, dan jika ia pergi keluar, keluar nya akan tidak diperhatikan, dan jika dia jatuh sakit, ia tidak diperhatikan, dan jika ia mati, ia tidak disertai dengan kuburnya. "

Mereka bertanya kepadanya, "Ya Rasulullah, bagaimana kita menemukan seseorang seperti itu?" Dia, (s), mengatakan, "Uwais al-Qarani adalah seperti satu." Mereka bertanya kepadanya, "dan siapa yang Uwais al-Qarani?" Dia, (s), menjawab, "Dia adalah gelap berkulit, bahu lebar, dan tinggi rata-rata kulit-Nya dekat dengan warna bumi.. Jenggotnya menyentuh dadanya. Matanya selalu mencari ke bawah ke tempat sujud, dan tangan kanannya pada tangan kirinya Dia menangis tentang dirinya dengan seperti aliran air mata yang bibirnya bengkak.. Dia memakai pakaian wol dan tahu untuk orang-orang dari langit. Jika dia membuat janji dalam Nama Allah, dia menyimpannya bawah bahu kirinya ada bercak putih.. Ketika hari kiamat datang dan ini mengumumkan kepada para budak, "Masukkan surga," itu akan dikatakan Uwais, "Berhenti dan bersyafaat." Allah Maha Perkasa dan Maha Agung adalah Dia, maka akan mengampuni mereka ke nomor yang sama seperti juga rakyat Rabi'ah dan Mudhar. (Ini adalah dua suku yang Uwais, (RA), milik) Jadi,. O Umar dan O Ali, jika Anda dapat menemukan dia, meminta dia untuk berdoa bagi Anda Kemudian Allah akan mengampuni Anda.. "

Sepuluh tahun berlalu dengan mana mereka bertanya tentang dia, tapi tanpa bisa menemukannya. Dalam 21H./644CE tahun, tahun yang sama bahwa Umar bin Khattab (RA), Khalifah Benar Kedua setelah wafatnya Nabi, (s), Umar (RA) pergi ke Pegunungan Abu Qubays (gunung menghadap Mekah) dan disebut dalam suaranya paling keras, "adalah orang O dari Yaman, ada orang di sana disebut Uwais?"

Seorang syekh tua dengan jenggot panjang berdiri dan menjawab, "Kami tidak tahu siapa Uwais ini adalah tentang siapa Anda bertanya, tapi anak adikku disebut Uwais Tapi ia terlalu tidak penting untuk ditanyakan tentang,. Dan terlalu miskin dan patuh yang ia harus diangkat ke tingkat Dia kami unta-gembala, dan dia tidak berdiri di antara rakyat kita.. " Tapi Umar kembali bertanya apakah dia tahu Uwais.

Orang itu menjawab, "Mengapa kau bertanya tentang dia, ya Amirul Mukminin, karena demi Allah tidak ada satu dari kita yang lebih bodoh dan lebih membutuhkan dari dia."

Umar (ra), kemudian menangis dan berkata kepadanya, "Kau begitu, tetapi tidak dia Karena aku mendengar Rasulullah saw.. (S), mengatakan," Mereka yang masuk surga melalui Uwais, meminta pengampunan bagi mereka , adalah orang-orang dari suku Rabi'ah dan Mudhar. "tanya Umar, (RA), di mana dia bisa menemukan dia, dan diberitahu," Di bukit 'Arafat. "

Umar dan Ali, (RAA), kemudian pergi dengan cepat untuk Arafat di mana mereka menemukan Uwais berdoa di bawah pohon dengan unta merumput di sekitarnya. Mereka mendekatinya dan menyapanya, katanya: "As-salaamu alaikum wa Allahi wa Barakatuh Rahmut." Uwais memotong doanya pendek, dan ketika dia selesai itu, kembali ucapan mereka. Mereka bertanya kepadanya, "Siapa kau?" Dia menjawab, "Seorang penggembala unta dan seorang pekerja yang disewa untuk suku." Mereka berkata, "kami tidak bertanya tentang merawat Anda hewan, atau tentang Anda menjadi seorang pekerja dipekerjakan, tapi siapa namamu?" Dia menjawab, "Abdullah." Mereka berkata, "Semua orang-orang dari langit dan bumi adalah hamba Allah, tetapi apa nama yang ibumu bernama Anda?" Dia berkata, "Wahai kalian berdua, apa yang Anda inginkan dari saya?" Mereka berkata, "Rasulullah (s) sekali berbicara kepada kami tentang Uwais al-Qarani Dia memberi kita gambaran tentang warna kebiruan hitam matanya,. Dan ia memberitahu kami bahwa dia memiliki tanda putih di bawah bahu kirinya Jadi silakan. menunjukkan kepada kita jika Anda memiliki tanda ini, maka itu adalah untuk Anda untuk siapa kita cari. "

Uwais kemudian memamerkan bahu kirinya, dan mereka melihat tanda putih. Mereka kemudian memeluknya dan menciumnya dan berkata, "Kami menyatakan bahwa Anda adalah Uwais al-Qarani, sehingga meminta pengampunan untuk kami dan Semoga Allah memaafkanmu."

Dia menjawab, "Aku bahkan tidak bisa memaafkan diriku sendiri, juga salah satu anak Adam Tetapi ada di darat dan di laut percaya pria dan wanita, pria dan wanita Muslim, yang doa kepada Allah akan dijawab.." Mereka menjawab, "Tentunya demikian." Kemudian ia berkata, "Wahai kalian berdua, Anda tahu tentang saya dan saya tahu tentang negara saya, tetapi siapa kamu?"

Ali (RA), menjawab, "Ini adalah Amirul Mukminin (al-amir al-muminin), Umar bin Khattab, dan saya Ali bin Abu Thalib."

Uwais berdiri tegak dan berkata, "As-salaamu alaikum ya 'amir al-mumminin Dan Anda., Oh Ali, semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan untuk Komunitas (umat)." Mereka berkata, "Semoga Allah membalas Anda untuk diri sendiri dan kebaikan Anda."

Kemudian Umar (ra), berkata kepada Uwais, "Tempatmu di sini sampai aku kembali ke Madinah, dan semoga Allah kasihanilah Anda Lalu aku akan membawa Anda membantu dari penyediaan saya dan beberapa pakaianku.. Ini telah pertemuan menempatkan antara kau dan aku. "

Tapi Uwais, (RA), menjawab, "Wahai Amirul Mukminin, tidak akan ada tempat pertemuan lain, dalam pengetahuan Allah, antara kau dan aku, tapi yang satu ini. Jadi, katakan padaku, apa yang harus saya lakukan dengan Anda penyediaan, dan apa yang harus saya lakukan dengan pakaian Anda? Apakah Anda tidak melihat bahwa saya mengenakan gaun wol dan pembungkus wol, jadi ketika Anda melihat saya merobek mereka Atau apakah Anda melihat bahwa sandal saya luntur dan rusak?? Ketika Anda melihat saya keluar memakainya Antara tangan Anda dan saya ada penghalang yang lebih tinggi yang tidak dapat dilintasi oleh orang berat, Jadi meninggalkan hal-hal ini, dan Allah akan menaruh belas kasihan kepadamu. "

Ketika Umar, (RA) mendengar kata-kata ini, ia memukul tanah dengan tongkatnya dan berteriak di bagian atas suaranya, "O akan bahwa Umar belum lahir oleh ibunya, dan bahwa ia telah steril!"

Kemudian Umar (RA), kembali ke Al-Madinah, dan Uwais (RA), menggiring unta kembali ke sukunya.

Tidak lama setelah ini, Uwais meninggalkan pekerjaannya sebagai penggembala dan pergi ke Kufah di mana ia melanjutkan di bondsmandship sampai Allah, Mahasuci Dia membawanya kembali ke diri-Nya.

Ketika Umar ibn al-Khattab, (RA), mendengar bahwa Uwais ingin kembali ke Kufah, katanya tho dia, "Di mana Anda ingin pergi ke?" Uwais berkata, "untuk Kufah." Umar, (RA), lalu berkata, "Apakah aku akan menulis surat untukmu kepada Gubernur nya?" Uwais menjawab, "Saya lebih suka berada dengan orang-orang yang dekat di hati saya."

Dalam sebuah hadits sahih dari Muslim, tercatat bahwa Umar (ra) berkata, "Aku mendengar Rasulullah, (s), berkata," Uwais bin Amir akan datang dengan jumlah orang dari suku Mudar dari wilayah Qarn seolah-olah ia memiliki penyakit di kulitnya. Dia memiliki seorang ibu kepada siapa dia paling sempurna setia, dan jika dia meminta sesuatu dari Allah itu akan diberikan kepadanya. Jika Anda bertemu dengannya, mintalah dia untuk meminta pengampunan untuk Anda. "

Dikatakan tentang Companion 'Alqamah bin Marthid, (RA), bahwa ia berkata, "Asketisisme secara khusus terkait dengan delapan orang, salah satunya adalah Uwais al-Qarani Keluarganya berpikir bahwa ia gila,. Dan mereka membangun dia ruangan dekat pintu rumah mereka. Hari akan lewat ketika mereka tidak akan melihatnya, dan makanannya adalah apa yang ia ambil dari tanaman dan tumbuh-tumbuhan di bumi yang akan menjual untuk membeli makanan untuk dirinya sendiri.

Juga Companion 'Amar bin Saif, (RA) berkata, "Ketika seorang pria pernah bertanya Uwais al-Qarani," Bagaimana Anda memulai pagi hari dan bagaimana Anda selesai malam hari "Dia (RA) menjawab?,' I dimulai pada pagi dengan mencintai Allah, dan saya selesai malam hari dalam memuji-Nya. Jangan tanya tentang keadaan seorang pria yang, ketika dia bangun di pagi hari berpikir bahwa ia tidak akan melihat malam hari, atau ketika ia masih hidup di malam hari berpikir bahwa ia tidak akan bangun di pagi hari Kematian dan menyebutkan dan mengingat tidak meninggalkan orang percaya setiap ruang untuk kebahagiaan.. " Sebab, saat ia kemudian berkata, "Di Mata Allah, Ta'ala Dialah, apa seorang Muslim memiliki tidak mengumpulkan setiap perak atau emas, karena satu-satunya harus melakukan apa yang diperkenankan dan menghindari apa yang dilarang, dan apa pun tidak telah meninggalkan percaya dengan teman tunggal. Ketika kita meminta mereka untuk melakukan apa yang diizinkan mereka menghina kita, dan dalam bahwa mereka dibantu oleh orang-orang kafir dan orang-orang berdosa. Demi Allah mereka telah dilemparkan hal-hal buruk padaku, tapi Ya Allah aku tidak akan meninggalkan mereka sampai aku menunjukkan kepada mereka cara yang benar. "

Salah satunya berkata, "Sejumlah orang telah berbicara kepada saya tentang Uwais al-Qarani, sehingga mendengar bahwa dia itu tinggal di Kufah, aku pergi ke sana untuk menemukannya, karena aku tidak punya keinginan lain kecuali untuk melihat dia saya temukan. dia duduk di tepi sungai Tigris, dan aku mengenali dia dengan deskripsi bahwa saya telah diberikan kepadanya Seorang pria kurus menatapku, dan aku mengulurkan tanganku untuk menyambutnya, tetapi ia tidak kembali ucapan saya. saya. merasa putus asa tapi saya bertanya kepadanya, "Apakah Anda Uwais:"

Bajunya miskin, dan ia tampak dalam keadaan isolasi Seluruh, karena itu keadaan nya yang menyebabkan orang-orang bodoh untuk mengatakan tentang dirinya bahwa ia gila dan gila. Tetapi saya tahu bahwa pertapa dan negara menyerah adalah bahwa dari faqir sejati, yang tidak mendengarkan orang yang mengatakan bahwa keadaan seperti itu bertentangan dengan sunnah. Orang-orang seperti tidak tahu tentang Sunnah yang benar dari Rasulullah, (s), yang adalah untuk meninggalkan dunia materi dan bisnis penciptaan, dan untuk mendekat kepada seseorang Tuhan, untuk meninggalkan semua obligasi yang selain kepada Allah, Maha Perkasa dan Dialah. "

Haram bin Hayyan melanjutkan ceritanya tentang pertemuan ini dengan mengatakan, "Lalu aku menyapanya berkata, 'Semoga Allah kasihanilah engkau, hai Uwais, dan mengampuni, Bagaimana kabarmu?" "Lalu suara saya dihentikan. Sebab aku tidak bisa berbicara hati saya yang dipindahkan dengan kelembutan yang mendalam terhadap dia ketika melihat negara dan bahwa ia sudah mulai menangis. Saya menemukan diri saya juga menangis. "Lalu Uwais berkata padaku, 'Semoga Allah menyambut Anda Apa kabar saudaraku, ibn Hayyan, dan yang menunjukkan Anda cara untuk saya?." "Saya menjawab, 'Ini adalah Allah." "Dia berkata, 'Tidak ada Tuhan selain Allah, segala puji bagi Tuhan kita Jika itu adalah Keinginan Allah, hal ini dilakukan.. Jadi ini adalah Keinginan Allah." Aku berkata, "Bagaimana kau tahu nama saya, andmy ayah yang bernama? Untuk nama saya adalah Haram bin Hayyan. " Uwais berkata, 'Maha Mengetahui mengatakan kepada saya, untuk jiwa saya tahu jiwa Anda ketika diri saya berbicara kepada diri Anda. " Untuk orang-orang percaya mengenal satu sama lain dalam kasih mereka untuk Allah, bahkan jika mereka tidak pernah bertemu, dan ketika mereka datang ke tempat istirahat kami, mereka mengenal satu sama lain bahkan jika mereka datang dari tempat jauh. "Saya berkata," Ceritakan tentang Rasulullah, (s). " "Uwais berkata, 'Aku tidak pernah melihat Rasulullah wajah Allah untuk wajah dan saya tidak pernah dengan kehadirannya, tapi saya akan memberikan hidup saya untuk dia. Tapi aku tidak ingin berbicara tentang itu. " "Saya berkata kepada Uwais," Ucapkan saya beberapa ayat dari Kitab Allah, sehingga saya dapat mendengarnya dari Anda dan sehingga saya dapat belajar mereka dengan jantung dari Anda Untuk tahu bahwa aku mencintaimu kepada Allah. '. "Uwais meraih tanganku, dan berkata, 'Aku berlindung kepada Allah, Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui, dari setan yang terkutuk." Kemudian ia mengucapkan, 'Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang di antara mereka untuk bermain belaka.' (44:38). Lalu ia menghela napas napas dalam, dan Aku menatapnya dengan mata mereka dari Cinta, karena ia telah menjadi tidak ada.

"Beberapa saat kemudian ia berkata padaku, 'Wahai putra Hayyan, ayahmu telah meninggal dan segera Anda akan mati, akan baik ke Taman atau neraka Saudara saya dan teman Umar bin Khattab telah meninggal.'. Saya berkata kepadanya, 'Semoga Allah mengampuni Anda, tapi Umar belum meninggal. " "Uwais berkata," Ya, dan orang-orang telah mengumumkan kematiannya, dan begitu juga Allah Maha Perkasa dan Maha Agung adalah Dia, dan Dia telah mengumumkan kematianku sendiri Untuk Anda dan. Aku sama-sama orang mati. " "Kemudian dia berdoa pada Nabi, (s), dan bergumam beberapa doa pendek." Kemudian dia berkata, "Inilah yang saya meninggalkanmu, Kitab Allah dan Sunnah Nabi, (s), dan Anda harus selalu mengingat kematian, dan ini seharusnya tidak pernah meninggalkan hati Anda sejenak. Dan memperingatkan orang-orang Anda ketika Anda kembali ke mereka, dan berkata kepada seluruh Masyarakat, "Jangan meninggalkan orang-orang, karena jika Anda melakukannya, Anda akan meninggalkan agama Anda tanpa menyadarinya, dan Anda akan masuk neraka. Jadi berdoa untuk saya dan diri Anda sendiri. "

Lalu Uwais, (RA), mengatakan kepada saya, "Ya Allah ini adalah klaim, karena dia mencintai saya dalam Anda, dan dia telah mengunjungi saya karena Anda, dan mengijinkan saya untuk melihat wajahnya di surga, dan membuatnya masuk Home of Peace, dan melindungi dia di dunia ini, selama ia masih hidup. Jauhkan dia dari dunia materi (dunya) melalui jalan di Jalur, dan membuat dia untuk bersyukur atas berkat-berkat ANDA memberinya, dan memberinya kebaikan dari saya. '

Lalu ia, (RA) berkata, "As-salaamu alaikum wa wa Barakatuh Rahmutullahi, sebab Aku tidak akan melihatmu setelah hari ini. Semoga Allah kasihanilah Anda, tapi saya tidak ingin diketahui, dan saya senang menyendiri, karena aku dalam kecemasan yang mendalam ketika saya dengan orang. Jadi jangan bertanya tentang saya, dan tidak memanggil saya, tapi tahu bahwa Anda berada dalam hati saya bahkan jika saya tidak melihat Anda atau Anda melihat saya. Sebutkan saya dan mendoakan saya, karena Aku akan menyebutkan Anda dan berdoa bagi Anda, jika Allah Ta'ala Dialah, jadi keinginan. Jadi pergi dari sini. '"

Haram bin Hayyan berkata, "Aku sangat ingin berjalan dengan dia selama satu jam, tapi setelah itu dia tidak mengijinkan saya lagi, jadi aku meninggalkannya dan aku mulai menangis, dan dia juga menangis.

Aku terus mengamatinya sampai ia masuk ke jalan ... Setelah itu saya bertanya tentang dia, dan aku memanggilnya, tetapi tidak ada yang bisa memberitahu apa-apa tentang dia. Tapi kemudian, setelah seminggu atau lebih telah lewat, aku melihatnya sekali atau dua kali dalam tidur saya. Uwais berkata, "Rasulullah meninggal, 'tapi dia tidak mengatakan,' Rasulullah, sall-Allahu` alaihi wa sallam, "meskipun ia mengatakan tentang para nabi sebelum dia. Dengan ini ia berarti bahwa kasih karunia Rasulullah terkenal, dan dia dikenal karena kesempurnaan menghormatinya, dan dia tidak perlu dipuji oleh orang. "

Beberapa mengatakan bahwa ketika malam datang, Uwais, (RA) akan berkata, "Malam ini untuk sujud." Kemudian ia akan bersujud sampai pagi. Dan juga ketika malam datang dia akan mendistribusikan makanan di rumahnya kepada orang miskin, dan ia akan berkata, "Ya Tuhan, jika seseorang meninggal malam ini dari kelaparan, maaf, dan jika seseorang meninggal telanjang, maafkan saya."

Abdullah bin Salma, Companion, (RA) berkata, "Kami pergi ke Azerbaijan di perusahaan kami Mater Umar bin Khattab, (RA), dan Uwais adalah dengan kami. Dalam perjalanan kembali ia jatuh sakit dan kami membawanya , tapi dia tidak bertahan lama dan dia meninggal Kami hendak menguburkannya dan menemukan sebuah kuburan yang sudah digali. Air tersedia dan semuanya siap untuk menerima mayat.. Kami dicuci dia, menempatkan dia dalam kain kafan, mendoakan dia, dan kemudian kami meninggalkan Sebagian dari kita mengatakan bahwa kita harus kembali dan menandai kuburan sehingga kita akan dapat menemukannya nanti.. Jadi kami kembali ke tempat itu, tapi tidak ada jejak dari kubur untuk ditemukan. "

Ra dengan dia, dan untuk dia sendiri saja sudah sama dengan sebuah umat seluruh (Komunitas).

Abdurrahman bin Auf

Abdurrahman bin Auf (bahasa Arab: عبد الرحمن بن عوف, lahir 10 tahun setelah Tahun Gajah – meninggal 652 pada umur 72 tahun) adalah salah seorang dari sahabat Nabi Muhammad SAWAs-Sabiqunal Aw-Walun) yang menerima agama Islam, yaitu dua hari setelah Abu Bakar. yang terkenal. Ia adalah salah seorang dari delapan orang pertama (
Abdurrahman bin Auf berasal dari Bani Zuhrah. Salah seorang sahabat Nabi lainnya, yaitu Sa'ad bin Abi Waqqas, adalah saudara sepupunya. Abdurrahman juga adalah suami dari saudara seibu Utsman bin Affan, yaitu anak perempuan dari Urwa bint Kariz (ibu Utsman) dengan suami keduanya.
Kaum muslimin pada umumnya menganggap bahwa Abdurrahman adalah salah seorang dari Sepuluh Orang yang Dijamin Masuk Surga.

Wahsyi

Wahsyi bin Harb adalah seorang bekas budak kulit hitam dari Etiophia milik Hindun bin Utbah yang menjadi terkenal karena mampu membunuh paman Nabi Muhammad SAW yang juga dikenal sebagai "Singa Allah" yakni Hamzah bin Abdul Muthalib, dan juga membunuh Musailamah al-Kazzab saat pertempuran Yamamah pada zaman Khalifah Abu Bakar.

Hamzah

Hindun majikannya saat itu, menjanjikan akan membebaskan Wahsyi bila ia mampu membunuh salah seorang di antara Nabi Muhammad sendiri, Ali bin Abi Thalib atau Hamzah sebagai balas dendam atas kematian ayahnya pada perang Badar. Wahsyi kemudian menjawab :
Aku tidak akan mampu mendekati Muhammad sama sekali, karena para sahabatnya selalu berada disampingnya lebih dekat dari siapapun. Ali sangat waspada dalam medan perang. Sedangkan Hamzah berkelahi dengan sangat brutal sehingga saat pertempuran dia tidak memperhatikan sekelilingnya dan ada kemungkinan aku bisa menjatuhkannya dengan menggunakan tipuan atau menyerangnya saat ia lengah
Hindun puas dengan jawaban ini dan menjajikan kemerdekaannya bila ia berhasil. Berkenaan dengan keberhasilannya membunuh Hamzah pada perang Uhud Wahsyi bercerita:
Saat perang Uhud, aku sedang mengikuti Hamzah. Ia sedang menyerang jantung tentara Quraish bagaikan singa yang marah. Ia membunuh siapapun yang mampu dijangkaunya. Aku bersembunyi di belakang pepohonan dan bebatuan agar dia tidak melihatku. Ia terlalu sibuk bertarung. Aku keluar untuk menyergapnya. Aku, sebagai orang Ethiopia terbiasa melempar lembing dan jarang meleset dari sasaran. Aku bergerak dengan gerakan tertentu dan setelah berada pada jarak tertentu dengannya melemparnya dengan lembing. Lembing itu mengenai pinggangnya dan keluar di antara kedua kakinya. Ia kemudian ingin menyerangku namun sakit yang teramat sangat mencegahnya melakukannya. Ia tetap dalam kondisi itu hingga ajalnya tiba. Kemudian aku menghampirinya dengan hati-hati dan setelah mencabut senjataku dari tubuhnya aku kembali kepada tentara Quraish dan menunggu kemerdekaanku

Memeluk Islam dan membunuh Musailamah

Wahsyi kemudian memeluk Islam dan membunuh Musailamah al Khazzab (Musailamah si pembohong) pada pertempuran Yamamah tahun 634 Masehi. Washi menceritakan rangkaian peristiwa tersebut sebagai berikut:
Setelah perang Uhud aku melanjutkan hidup di Mekkah dalam waktu yang cukup lama sampai tentara Muslim menaklukkan Mekkah. Aku kemudian melarikan diri ke Tha'if, namun segera setelah itu Islam juga menjangkau daerah itu. Aku mendengar bahwa sebesar apapun dosa seseorang, akan diampuni. Lantas aku menghadap Rasulullah dan mengucapkan syahadat. ia kemudian melihatku dan menanyakan "Apakah kau Wahsyi yang sama dengan Wahsyi dari Ethiopia?" Aku mengiyakan dan beliau kembali bertanya:"Bagaimana kau dapat membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib?" Aku kemudian menceritakan peristiwa tersebut. Rasulullah kemudian berpaling dan mengatakan:"Aku tidak akan melihat wajahmu hingga hari berbangkit, karena musibah yang menimpa pamanku oleh tanganmu". Kemudian selama Rasulullah masih hidup aku menyembunyikan diri darinya, dan setelah wafatnya peperangan dengan Musailamah berlangsung. Aku bergabung dengan tentara Islam dan menggunakan senjata yang sama melawan Musailamah, aku berhasil membunuhnya dengan bantuan salah seorang Anshar. Jika aku membunuh orang terbaik (hamzah) dengan senjata ini, orang terburukpun tidak akan sanggup lari darinya

Zubair bin Awwam bin Khuwailid

Az-Zubair bin Al-‘Awwam (Bahasa Arab الزبير بن العوام) (wafat 36 H/656 M) adalah putra bibi Muhammad salah satu sahabat nabi dan termasuk as-Sabiqun al-Awwalun, yaitu salah seorang dari 10 orang yang pertama masuk Islam. Ketika pamanya Naufal bin Khuwailid mengetahui Zubair telah memeluk Islam, ia sangat marah dan berusaha menyiksanya, Zubair dimasukkan kedalam karung tikar, kemudian dibakar.

Usamah bin Zaid bin Haritsah

Usamah bin Zaid bin Haritsah (Arab: أسامة بن زيد) adalah sahabat Nabi Muhammad.

Biografi

Usamah adalah anak dari Zaid bin Haritsah dengan Ummi Ayman yang sangat dikenal, karena ia ditunjuk sebagai seorang panglima perang dalam usia 17 tahun dikarenakan ia dikenal sebagai pemuda yang berani dan tangguh.

Thalhah bin Ubaidillah

Thalhah bin Ubaidillah (Bahasa Arab طلحة بن عبيد الله) (wafat 36 H/ 656 M) adalah seorang sahabat nabi berasal dari Quraisy, nama lengkapnya adalah Thalhah bin Abdullah bin Usman bin Kaab bin Said. Thalhah juga termasuk enam konsultan Muhammad dan sepuluh orang yang dijanjikan masuk surga.
Thalhah mengikuti Perang Uhud dan menderita luka parah yang luar biasa. Dia menggunakan dirinya menjadi perisai bagi Nabi Muhammad dan mengalihkan panah yang akan menancap diri Rasulullah saw dengan tangannya sehingga semua jari-jarinya terputus. Ia akhirnya meninggal akibat terpanah pada Perang Jamal.

Said bin Zayd bin Amru

Said bin Zayd bin Amru (Bahasa Arab سعيد بن زيد) (wafat 51 H/671 M), adalah seorang sahabat asal Quraisy. Nama lengkapnya adalah Said bin Zayd bin Amru bin Nufail Al Adawi, ia berkesempatan mengikuti semua peperangan yang disertai Muhammad kecuali Perang Badar. Said termasuk sepuluh orang yang dijanjikan masuk surga. Said ikut dalam penaklukan negeri Syam (Suriah dan sekitarnya), kemudian meninggal di Madinah.

Sa'ad bin Abi Waqqas

Sa`ad bin Abī Waqqās (abjad Arab: سعد بن أبي وقاص) merupakan salah seorang yang awal masuk Islam dan salah satu sahabat penting Muhammad.

Keluarga

Ia berasal dari klan Bani Zuhrah dari suku Quraisy , dan paman Nabi Muhammad dari garis pihak ibu. Ia memiliki putera bernama Umar bin Sa'ad, pemimpin dari pasukan yang membunuh Husain bin Ali pada Peristiwa Karbala. Abdurrahman bin Auf, sahabat nabi yang lain, merupakan sepupu.
Saad lahir dan besar di kota Mekkah. Ia dikenal sebagai pemuda yang serius dan memiliki pemikiran yang cerdas. Sosoknya tidak terlalu tinggi namun bertubuh tegap dengan potongan rambut pendek. Orang-orang selalu membandingkannya dengan singa muda. Ia berasal dari keluarga bangsawan yang kaya raya dan sangat disayangi kedua orangtuanya, terutama ibunya. Meski berasal dari Makkah, ia sangat benci pada agamanya dan cara hidup yang dianut masyarakatnya. Ia membenci praktik penyembahan berhala yang membudaya di Makkah saat itu.

Awal masuk Islam

Suatu hari dalam hidupnya, ia didatangi sosok Abu Bakar yang dikenal sebagai orang yang ramah. Ia mengajak Sa'ad menemui Nabi Muhammad di sebuah perbukitan dekat Makkah. Pertemuan itu mengesankan Sa'ad yang saat itu baru berusia 20 tahun.
Ia pun segera menerima undangan Nabi Muhammad SAW untuk menjadi salah satu penganut ajaran Islam yang dibawanya. Sa'ad kemudian menjadi salah satu sahabat yang pertama masuk Islam.
Sa'ad sendiri secara tidak langsung memiliki hubungan kekerabatan dengan Rasulullah SAW. Ibu rasul, Aminah binti Wahhab berasal dari suku yang sama dengan Saad yaitu dari Bani Zuhrah. Karena itu Saad juga sering disebut sebagai Sa'ad of Zuhrah atau Sa'ad dari Zuhrah, untuk membedakannya dengan Sa'ad-Sa'ad lainnya.
Namun keislaman Saad mendapat tentangan keras terutama dari keluarga dan anggota sukunya. Ibunya bahkan mengancam akan bunuh diri. Selama beberapa hari, ibu Sa'ad menolak makan dan minum sehingga kurus dan lemah. Meski dibujuk dan dibawakan makanan, namun ibunya tetap menolak dan hanya bersedia makan jika Sa'ad kembali ke agama lamanya. Namun Sa'ad berkata bahwa meski ia memiliki kecintaan luar biasa pada sang ibu, namun kecintaannya pada Allah SWT dan Rasulullah SAW jauh lebih besar lagi.
Mendengar kekerasan hati Sa'ad, sang ibu akhirnya menyerah dan mau makan kembali. Fakta ini memberikan bukti kekuatan dan keteguhan iman Sa'ad bin Abi Waqqas. Di masa-masa awal sejarah Islam, kaum Muslim mengungsi ke bukit jika hendak menunaikan salat. Kaum Quraisy selalu mengalangi mereka beribadah.
Saat tengah salat, sekelompok kaum Quraisy mengganggu dengan saling melemparkan lelucon kasar. Karena kesal dan tidak tahan, Sa'ad bin Abi Waqqas yang memukul salah satu orang Quraisy dengan tulang unta sehingga melukainya. Ini menjadi darah pertama yang tumpah akibat konflik antara umat Islam dengan orang kafir. Konflik yang kemudian semakin hebat dan menjadi batu ujian keimanan dan kesabaran umat Islam.
Setelah peristiwa itu, Rasulullah meminta para sahabat agar lebih tenang dan bersabar menghadapi orang Quraisy seperti yang difirmankan Allah SWT dalam al-Qur'an Surah Al-Muzzammil ayat 10. Cukup lama kaum Muslim menahan diri. Baru beberapa dekade kemudian, umat Islam diperkenankan melakukan perlawanan fisik kepada para orang kafir. Di barisan pejuang Islam, nama Sa'ad bin Abi Waqqas menjadi salah satu tonggak utamanya.
Ia terlibat dalam Pertempuran Badar bersama saudaranya yang bernama Umair bin Abi Waqqas yang kemudian syahid bersama 13 pejuang Muslim lainnya. Pada Pertempuran Uhud, bersama Zaid, Sa'ad terpilih menjadi salah satu pasukan pemanah terbaik Islam. Saad berjuang dengan gigih dalam mempertahankan Rasulullah SAW setelah beberapa pejuang Muslim meninggalkan posisi mereka. Sa'ad juga menjadi sahabat dan pejuang Islam pertama yang tertembak panah dalam upaya mempertahankan Islam.
Sa'ad juga merupakan salah satu sahabat yang dikarunai kekayaan yang juga banyak digunakannya untuk kepentingan dakwah. Ia juga dikenal karena keberaniannya dan kedermawanan hatinya. Sa'ad hidup hingga usianya menjelang delapan puluh tahun. Menjelang wafatnya, Sa'ad meminta puteranya untuk mengafaninya dengan jubah yang ia gunakan dalam perang Badar. Kafani aku dengan jubah ini karena aku ingin bertemu Allah SWT dalam pakaian ini,ujarnya.

Memimpin Perang melawan Kekaisaran Persia

Penolakan kaisar Persia membuat air mata Sa'ad bercucuran. Berat baginya melakukan peperangan yang harus mengorbankan banyak nyawa kaum Muslim dan non Muslim.
Kepahlawanan Sa'ad bin Abi Waqqas tertulis dengan tinta emas saat memimpin pasukan Islam melawan melawan tentara Persia di Qadissyah. Peperangan ini merupakan salah satu peperangan terbesar umat Islam.
Bersama tiga ribu pasukannya, ia berangkat menuju Qadasiyyah. Di antara mereka terdapat sembilan veteran perang Badar, lebih dari 300 mereka yang ikut serta dalam ikrar Riffwan di Hudaibiyyah, dan 300 di antaranya mereka yang ikut serta dalam memerdekakan Makkah bersama Rasulullah. Lalu ada 700 orang putra para sahabat, dan ribuan wanita yang ikut serta sebagai perawat dan tenaga bantuan.
Pasukan ini berkemah di Qadisiyyah di dekat Hira. Untuk melawan pasukan Muslim, pasukan Persia yang siap tepur berjumlah 12O ribu orang dibawah panglima perang kenamaan mereka, Rustum.
Sebelum memulai peperangan, atas instruksi Umar bin Khattab yang menjadi khalifah saat itu, Sa'ad mengirim surat kepada kaisar Persia, Yazdagird dan Rustum, yang isinya undangan untuk masuk Islam. Delegasi Muslim yang pertama berangkat adalah An-Numan bin Muqarrin yang kemudian mendapat penghinaan dan menjadi bahan ejekan Yazdagird.
Untuk mengirim surat kepada Rustum, Sa'ad mengirim delegasi yang dipimpin Rubiy bin Aamir. Kepada Rubiy, Rustum menawarkan segala kemewahan duniawi. Namun ia tidak berpaling dari Islam dan menyatakan bahwa Allah SWT menjanjikan kemewahan lebih baik yaitu surga.
Para delegasi Muslim kembali setelah kedua pemimpin itu menolak tawaran masuk Islam. Melihat hal tersebut, air mata Sa'ad bercucuran karena ia terpaksa harus berperang yang berarti mengorbankan nyawa orang Muslim dan non Muslim.
Setelah itu, untuk beberapa hari ia terbaring sakit karena tidak kuat menanggung kepedihan jika perang harus terjadi. Sa'ad tahu pasti, bahwa peperangan ini akan menjadi peperangan yang sangat keras yang akan menumpahkan darah dan mengorbankan banyak nyawa.
Ketika tengah berpikir, Sa'ad akhirnya tahu bahwa ia tetap harus berjuang. Karena itu, meskipun terbaring sakit, Sa'ad segera bangkit dan menghadapi pasukannya. Di depan pasukan Muslim, Saad mengutip Alquran Surah Al-Anbiya' ayat 105 tentang bumi yang akan dipusakai oleh orang-orang shaleh seperti yang tertulis dalam kitab Zabur.
Setelah itu, Sa'ad berganti pakaian kemudian menunaikan salat Dzuhur bersama pasukannya. Setelah itu dengan membaca takbir, Sa'ad bersama pasukan Muslim memulai peperangan. Selama empat hari, peperangan berlangsung tanpa henti dan menimbulkan korban dua ribu Muslim dan sepuluh ribu orang Persia. Peperangan Qadisiyyah merupakan salah satu peperangan terbesar dalam sejarah dunia. Pasukan Muslim memenangi peperangan itu.

Akhir Hayat

Sa'ad dipanggil oleh Allah pada tahun 54 H di pangkuan anaknya. Dan dikafankan dengan kain yang pernah dipakainya saat Perang Badar


IDENTITAS :
  * Nama : Saad bin Malik Az-Zuhri (nama asli)
  * Kakek : Uhaib
  * Buyut : Manaf
  * Bani : Zuhrah
  * Suku : Quraisy
JULUKAN :
  * Singa yang Menyembunyikan Kukunya : Saad yang gagah berani dan memiliki segudang prestasi namun tetap rendah hati dan tidak pernah menyombongkan diri
  * Assabiqunal Awwalun : Orang ketiga yang masuk Islam pertama kali
PROSES MASUK ISLAM :
  * Diyakinkan oleh Abu Bakar As-Shiddiq untuk masuk Islam
  * Ketika mengetahui kabar keislamannya, sang ibu mogok makan hingga Saad kembali ke agama nenek moyangnya
  * Saad menolak dan berkata : "Demi Allah, ketahuilah wahai bunda, seandainya ibu punya 100 nyawa dan ia keluar satu persatu, tidaklah ananda akan meninggalkan agama ini walau ditebus dengan apapun juga..."
SIFAT :
  * Ksatria yang Tangguh : Dalam setiap peperangan, siapapun panglimanya, jika ada Saad didalamnya maka pasukan akan merasa tenang
  * Mengutamakan Musyawarah : Selalu mengirimkan surat kepada Khalifah Umar bin Khattab tentang situasi perang Qadishiyyah dan meminta pendapat Umar
  * Taqwa : Memakan makanan yang halal, dan menolak dengan keras tiap dirham yang syubhat
  * Tidak Pendendam : Tidak pernah menaruh dendam atau niat jahat terhadap seorang pun
  * Teguh Terhadap Keislamannya : Saat ibunya mogok makan agar ia kembali ke agama lamanya, Saad tetap dalam keimanannya
PRESTASI :
  * Gubernur Militer di Iraq
  * 3 orang pertama yang masuk Islam
  * Satu-satunya orang yang dijamin Rasulullah denagn jaminan orang tua Rasulullah
  * Memiliki 2 senjata ampuh yaitu panah dan do'a
  * Salah satu penduduk surga
  * Mengalahkan tentara Persi yang berjumlah 100 ribu prajurit terlatih
AKHIR HAYAT :
  * Wafat pada tahun 54 H di pangkuan anaknya
  * Dikafankan dengan kain yang pernah dipakainya saat perang Badar